Wednesday, October 7, 2009

Gadis & Pria (1) Abu-Abu

Suatu hari di pertengahan bulan Agustus

Tak ada detik yang memperdengarkan detaknya. Semua terasa dingin dan kaku, ruang itu begitu lembab, semua terlihat samar-samar melalui berkas-berkas cahaya yang terpantul sayu dari riak-riak air yang menggenang… Gaungpun bisa selalu dengan setia menemani percakapan antara dua individu disana…

Ruang itu begitu kelabu, oleh karenanya disebut sebagai ruang abu-abu.

Gadis :“Katakan… katakan…dimana aku…?!?”

Pria : “Kau disini… bersama aku, Gadis…” (sambil menggenggam lengan gadis)

Gadis : (berusaha melepaskan diri dari cengkraman Pria) “Tidak… bukan itu… katakan dimana aku saat ini…?!? Katakan Pria… katakan dimana aku sekarang…?!?”

Pria : “harus berapa kali kukatakan padamu, Gadis. Kau disini bersamaku…”

Gadis : “Tidak Pria, kau tidak tahu dimana aku berada saat ini. Kau tidak tahu…”

Pria : “Sungguh Gadis… aku tak tahu dimana lagi harus menempatkan dirimu… disinilah tempat yang paling aman.”

Gadis : “AMAN…!!! Apa maksudmu dengan ‘aman’ Pria… ??? Tolong jelaskan padaku tentang rasa ‘aman’mu itu...”

Pria : “Ah sudahlah Gadis… tak usah kau ungkit lagi… aku lelah…”

Gadis : “LELAH???.,... Ooohh jadi setelah selama ini… kau merasa dirimu lelah...??? Kau salah Pria… aku yang seharusnya lelah dengan semua ini…!!!”

Pria : “Gadis… Gadis… dengarkan aku untuk sekali ini saja… tetaplah disini… sungguh… sungguh aku tak tahu dimana lagi harus menempatkan dirimu… semuanya abu-abu… semuanya samar Gadis… tolonglah kamu mengerti sedikit tentang semua ini…”

Gadis : “Ohh… Pria… sungguh egois sekali kamu sebagai seorang makhluk yang berkelamin pria. Picik sekali… kini kau minta aku tinggal dalam ruang abu-abu-mu… dan menunggu semua...??? menunggu…apa yang harus kutunggu lagi, menunggu… hingga kau memutuskan apakah itu hitam atau putih…”

Pria : “Maafkan aku Gadis… tapi hanya itu yang bisa kulakukan saat ini… tunggulah disini… tinggallah disini…”

Gadis : “tidak Pria… Tidak lagi… tidak untuk saat ini… putuskan sekarang dimana aku harus berada…”

Pria : “Bagaimana caranya Gadis… bagaimana caranya aku memutuskan… hati dan logika saja sudah saling berjalan berjauhan… lalu bagaimana bisa aku membuat keputusan?!?"

Gadis : “Aku juga tidak tahu bagaimana caranya Pria… hatimu, logikamu, pemikiranmu, adalah milikmu… hanya kau yang tau siapa dirimu… Sudahlah Pria…. Aku benar-benar lelah… ijinkan aku pergi dari ruang abu-abu ini…"

Pria : “Gadis dengarkan… dengarkan aku dulu Gadis… Lihat… Kau ada di sini, di ruang hati ini… tapi maaf, saat ini aku hanya bisa menempatkan kau di ruang abu-abu ini…”

Pria : “Gadis… tak bisakah kau lihat aku saat ini… lihatlah aku disini Gadis…,
Sungguh aku telah hilang dalam langit malam ini… semua terlihat abu-abu dalam pandangan ini… aku tak tahu dimana harus kupijakan kaki ini… dimana harus kutempatkan hati ini… yang kutahu hanya masa lalu itu… masa lalu itu masih ada di sini… dan aku tidak dapat memisahkan kau dari masa lalu itu dengan masa lalu lainnya… aku ingin kau menungguku disini… Gadisku… aku tahu kau lelah, begitu juga denganku… maafkan aku Gadis… aku sungguh tak tahu apakah aku mampu membawamu jadi bagian dari mimpiku akan masa depan… tunggulah aku disini Gadis….”

Gadis : “Hhhhh… sungguh… sungguh sangat egois sekali kamu, Pria… lagi-lagi kau minta aku menuggu untuk suatu kepastian yang kau sendiri tidak dapat pastikan…. lihat dirimu, Pria… LIHAT…!!! Dan tanyakan kedalam ruang hatimu yang terdalam… adakah aku yang selalu kau lihat pertama kali…"

Gadis : “Pasti bukan aku, bukan… kau sudah mengetahui hal itu, tapi mengapa kau masih mau menahanku disini…Pria… aku lelah menunggumu… aku lelah dengan ruang abu-abu ini… aku bosan berada diantara masa lalu dan masa depanmu…"

Pria : “Maaf Gadis… maafkan aku… maafkan aku… kumohon tunggulah aku… tinggallah bersama aku saat ini… bantu aku Gadis… kumohon padamu Gadis…"

Gadis : “Tidak Pria… tidak saat ini… maaf… maaf… tapi tidak kali ini… aku harus meninggalkanmu… maaf Pria, aku pergi…”



L.W.

Tuesday, October 6, 2009

UNDP for Women Voters 2009

Menjelang Pemilu 2009 lalu, UNDP membuat kampanye yang ditujukan untuk para voter wanita, khususnya remaja putri dan ibu-ibu rumah tangga.
Dan akhirnya setelah melalui proses "badai otak" bersama teman-teman satu tim, dan beberapa alternativ ide yang diajukan... Puji Tuhan, akhirnya tim kami keluar sebagai pemenang yang dipercayakan untuk mengerjakan materi kampanye tersebut, yakni dengan membuat iklan cetak dan radio sebagai media komunika
sinya.

Berikut hasil kerja kami.

Print Ad:

Title: Anak Bangsa

title : Pilihanmu

sedang untuk iklan radionya, kami membuat empat versi, 2 versi untuk remaja putri, sedang 2 versi lagi untuk ibu-ibu rumah tangga. (untuk menyimak dan mendengarkan)


Brains team:
HD : Renville Rizanul
CD : Gembong Pamungkas
AD : Dhanito
CW : Lidwina Windri

Thursday, September 24, 2009

Gadis Pelangi

Dialah gadis pelangi
Di wajahnya tersirat beribu macam warna…

Gadis pelangi dengan warna warninya

Berjalan menghiasi dan mewarnai bumi

Dia menari dan tersenyum

Tubuhnya begitu ringan, hingga anginpun dapat mudah membawanya terbang


Gadis pelangi berjalan menelusuri hari

Menatap mimpi dengan kasih

Menunggu hujan berhenti

Untuk kemudian dia menari

Menari diatas air… tak perduli awan hitam memayungi


Gadis pelangi hadir tak perdulikan hari

Hanya satu yang ia sadari

Bahwa akan ada selalu warna menghiasi diri

Untuknya ataupun untuk alam sendiri


Bagai sebuah lukisan yang penuh dengan warna…

Gadis pelangi melihat warna warni dunia

Melihat setiap warna dalam makna cinta

Meski cinta terkadang menghantarkan luka


L.W.

Kata

hai kata...
bolehkah aku berkata..

bukan sepatah atau dua kata...

tapi aku ingin berkata tentang cinta...


aku bukanlah seorang pecinta

juga bukanlah seorang pencerita

hanya saja ketika hati ingin berkata

maka hanya selalu ada satu kata

dan itu, cinta...


jujur aku sendiri tak mengerti artinya, kata

tapi mengapa, setiap kupejamkan mata

setiap kali mulut ini ingin berkata..

tiap detik itu juga, yang kudengar dalam detak

hingga malam menenggelamkan senja

maka hanya ada 'cinta' dan lagi-lagi cinta


Kata, marahlah padaku

katakan padaku bagaimana cara melupakannya

bagaimana cara membuang satu kata itu

katakan padaku apa yang harus kulakukan padanya


membuangnya? melepaskannya?

ide yang bagus, kata...

tapi bagaimana caranya??

hati ini dan cinta sudah begitu erat terikat

bantu aku menemukan cara lain...


Ohhh kata... aku lelah berkata karenanya

telah terlalu jenuh aku dibuatnya

tapi lagi-lagi hati tak bisa menampik keberadaannya


Kata, sudah gilakah aku karenanya?

Gilakah aku karena cinta?

kata... katakan padaku siapa itu cinta!

katakan padaku, kata...!!!


Tapi sudahlah, biarkan saja, kata...

cukup puas hari ini aku bisa berkata...

meski dalam tulis... hanya kamu, kata, yang bisa mengerti hati ini...


kata...

sampaikan saja padaNya...

bahwa aku mungkin sedang mencinta...

katakan... aku cinta akan dirinya...

dan terima kasih untuk cintanya...



L.W.


Tuesday, June 23, 2009

Separuh Jiwa

Disini ada luka yang terluka
Luka teramat dalam dan masih membekas.

Disini ada diam yang terdiam

Diam dalam separuh jiwa yang hilang


Disana dia berada, disisimu

Separuh jiwa masih berada di dekatmu

Taukah kau separuh jiwa itu disisimu?

Separuh jiwa yang masih setia menanti

Menanti untuk kau tersenyum kembali


Disini separuh jiwa menanti

Menantinya untuk kembali

Utuh dan sepenuhnya untuk lepaskanmu


Dalam diam dan sunyi kuhadirkan jiwa ini

Dalam tawa semu kukuatkan diri ini


Bukan karena tak berani melangkah

Atau bukan karena tak mau menjauh

Tapi lihatlah…

Inilah separuh jiwaku…

Kuhadirkan untukmu

Hadir dan memastikan kau kan kembali bersinar


Tak ada kata ataupun harapan berlebih

Separuh jiwa ini tulus disisimu

Ingin melihat terang dan senyum di wajahmu


Dan jika saat itu tiba…

Separuh jiwa kan kembali satu dalam jiwaku

Menemani ku dalam perjalanan selanjutnya…


Ya… inilah separuh jiwaku menanti senyummu…


Jogjaku

Jogjaku...
Dua kali ku berlari dari cinta
Dua kali kembali ku mencinta

Dalam tenangmu kutenggelamkan diri
Dalam damaimu kurasakan sendiri

Kudengar sunyi dan gemamu
Ada tawa di lukisan jiwamu
Goreskan warna dalam cerita

Jogjaku… tempatku berlari
Tempatku bersembunyi dalam sepi
Kau selalu menarikku kembali
Dari tepi masa lalu kau buang diri ini
Dari mimpi kau inginkan ku pergi

Jogjaku…
Dimanakah hatimu menyembunyikan cintamu
Diantara ruang dan liku jalanmu
Ku temukan dirimu dan dirinya
Dirinya yang milikmu
Namun hati ini mengingininya

Jogjaku…
Maukah kau berbagi cintamu untukku
Seorang anak dalam pencarian
Memohon akan cintamu

Jogjaku...
Adakah nanti pertemuan ketiga ku dan dirimu
Adakah kelak tempat untukku disana
Bersamamu... bersama Jogjaku...



Abu-abu

Terjebak dalam ruang dan waktu yang mengikat
Tak jua juga ingin lepaskan diri

Karena rasa begitu memikat


Berlari menjadi sulit

Langkahpun hal yang mustahil

Begitu pekat malam menemani

Begitu lekat bayangan menghantui


Sesak sudah nafas ini

Tersengau dalam hidup

Dan memaksa untuk mati


Kini hanya tinggal abu-abu

Tak adalagi hitam atau putih


Cahaya bercampur gelap

Sunyi berbaur ramai

Kemutlakan tak terjawab

Menjadi tanya haus jawaban


Haruskah merintih

Haruskah mengiba

Haruskah mati dahulu

Agar tak ada lagi jiwa yg penasaran

Hingga akhinya kesemuaan bersahabat nyata