Tuesday, March 10, 2009
Yes… Tonight, I smile for U
I can feel the wind kiss me gentle
See the moon smiling to the star
And let the rain whispered softly in my ear
It’s been a long time that we don’t talk each other
Just like a couple of years that I haven’t see u
Well I just want to U know…
U were so look different tonight
Not from your look tonight
Not from the clothes that u ware
Not from the gadget that u use it
Not from the way you sing and guitar that u played
Yes… I saw u were change
Yes… I feel u already back
Yes… I saw u were happy tonight
Yes… I know that u much much much better
Just try to saw u from the different side
And Thanks GOD u already release from that tight
Now I see U free from that pain
And become cheerful guy... tonight
Thanks to U for all scenes
Thanks for all smile that u shown
Yes…
Your smile… and your laugh… tonight…
The way u enjoy that night… tonight…
Yes… U makes me smile
Yes… Tonight, I smile for U
Monday, February 16, 2009
Ketika Ia Berucap
Yang ku ingin hanya melihat senyummu saat itu
Tangan mungilmu yang menerima dengan halus
Bibir kecilmu yang kemudian tersenyum
Juga binar matamu saat itu…
Sungguhlah menghadirkan warna ceria untukku
Bahagia rasanya melihatmu tersenyum
Namun tahukah kamu…
Kaulah yang ternyata memberiku hadiah
Ketika bibir kecilmu mengucapkan sebuah kalimat
Itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar
Sederhana, jujur, dan terdengar sangat tulus
Tahukah kamu...
Doa yang kaulafalkan untukku
Sebuah doa terindah yang pernah kudengar dari seorang malaikat kecil
Masih kuingat hingga saat ini kata-kata yang kau ucapkan pagi itu
Terima kasih malaikat kecilku...
Doamu benar-benar menghadirkan senyuman di wajahku
Terima kasih malaikat kecilku...
Kau membuat perjalanan hidupku terasa ringan.
Dedicate to: Louisa, gadis kecil yang suka bermain di ruang kerjaku, "terima kasih untuk doanya ya..." :D
Perjalanan Pagi
Hari ini… adalah suatu hari yang membawaku dalam sepenggal cerita baru dalam hidupku. Mungkin bagi beberapa orang cerita yang hendak kusampaikan ini adalah cerita biasa, tapi untukku… ini adalah suatu pengalaman yang membawaku dalam sebuah bentuk perasaan yang bercampur aduk, antara bingung, senang, gugup, ragu namun akhirnya membawaku dalam suatu senyuman. Pagi itu sengaja kupasang jamku untuk berbunyi membangunkanku, ada rasa ragu sebelum akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari tempat tidurku dan bergegas menyiapkan diri pada suatu pertemuan dengan sekumpulan orang asing.
Jam 8 lewat, ku lajukan si vespa kecilku, Alfie menuju daerah Patiunus. Pagi yang cerah, udara yang menyegarkan menemani perjalananku pagi itu. Dari jauh telah terlihat deretan motor yang ber-(maaf) pantat semok itu, mulai dari yang tua hingga yang terbaru, semua berjejer rapi.


Dari seberang telah kulihat segerombolan pria dengan rompi tebal yang melindungi badan mereka. Beberapa ada yang telah kukenal sebelumnya, dan lainnya baru ku ketahui saat itu. Aku wanita sendiri di tengah gerombolan itu. Inilah wajah-wajah baru dalam hidupku, bila kuperhatikan sekilas mungkin umur mereka mungkin sekitar 25 hingga 40-an, beberapa kenalanku ada yang sudah menikah dan punya anak, dan lain-lainnya uhmmm… aku kurang mengetahuinya. Pagi itu kami, sekumpulan orang-orang yang menjadi pemilik dari satu atau beberapa vespa, berkumpul di Patiunus untuk sarapan bersama. Mulai dari serabi, lontong sayur, bakso, tapi pilihanku tetap pada semangkok bubur ayam yang lezat dengan ayam kampungnya yang tumpah ruah... Muanntapp..

Inilah sarapan keduaku bersama mereka, tapi ini adalah pertama kalinya aku berjalan-jalan dengan Alfie dan kawan-kawan hingga Monas. Ya aku dan Alfie bersama teman-teman baruku itu, berjalan menelusuri sepanjang jalan Sudirman, Thamrin, dan kemudian memutar balik di depan Museum Nasional hingga akhirnya kembali ke daerah selatan, Taman Barito jadi pemberhentian kami sejenak.

Jujur, ada perasaan takut, deg-degan, senang, dan entahlah suatu perasaan yang tidak dapat kuungkapkan. Inilah pertama kalinya aku touring, ya walau kecil-kecilan dan selalu tertinggal, tapi perasaan ini wahh… senangnya… menikmati perjalanan bersama Alfie.

Tidak puas sampai Taman Barito, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Parkir Timur Senayan. Matahari tampaknya merestui perjalanan kami pagi itu, dia banjiri hari ini dengan sinarnya hingga kering dibuatnya tenggorokan ini. Sesampainya di halaman belakang komplek kolam renang Senayan, kamipun istirahat sejenak, berbincang-bincang, mungkin ada sekitar satu jam kami disana sebelum akhirnya memutuskan untuk berpisah.
Sungguh perjalanan pagi yang singkat namun penuh warna. Entah harus mengucapkan apa tentang hari ini… “Terima kasih kawan-kawan dari vesbook, vesberry, atau campursari… terima kasih untuk perjalanan singkat di pagi hari ini, semoga kita bisa berjalan bersama-sama lagi… :D “
Thursday, November 20, 2008
Tulisanku...
Dan apakah semua hal aku rasakan, aku pikirkan harus selalu dituangkan dalam tulisan? Semua hal bermain dalam otak kecil, berlari dan berlompatan secara mengacak, dan haruskah semua kutuliskan seperti apa yang ada di alam pemikiran itu?
Menulis… iya aku menulis… tapi apakah harus juga selalu kuperlihatkan bahwa aku sedang menulis sesuatu di depan mereka? Seolah menunjukkan diri bahwa ‘Yaa… aku senang menulis lho…’
Menulis… bukanlah suatu ajang unjuk diri, bagiku… ya memang ini bagian terbesar dalam hidupku… namun saja terkadang ingin rasanya mengatakan, aku ya aku… aku yang hanya senang menulis ketika kalian tidak ada di sekitarku…
Aku menulis… dan senang rasanya membiarkan jari-jari ini menari di atas tombol-tombol hurf yang berjajar pada suatu papan dengan tatanannya… membiarkan jari-jari ini merangkai setiap hurufnya menjadi sebuah kata… menjadi sebuah kalimat… menjadi sebuah cerita…
Aku menulis… ketika jari, hati dan pikiran ini bersama-sama bermain dalam satu panggung pemikiran dan inspirasi…
Aku menulis.. . tanpa harus kalian ketahui bahwa aku sedang menulis…
Aku menulis… dan masih terus menulis…
Aku menulis… entah apa yang aku tulis…
Aku menulis… dan biarkan hanya aku dan waktu yang tahu kapan aku menulis, dan tunggu saja hasilnya di suatu duniaku…
Aku menulis… dan masih perlukah kau ketahui itu?
Friday, May 30, 2008
Visit Indonesia 2008 (Initiative)
Di konsep pertama kita ingin menampilkan Indonesia sebagai salah satu harta karun dunia. Dengan banyaknya seni dan budaya, adat istiadat di Indonesia, menurut kami hal tersebut telah menjadi harta tersendiri untuk Indonesia yang siap untuk digali untuk para wisatawan luar negeri. Dan tentunya dalam menemukan sebuah harta karun tentunya akan dibutuhkan sedikit perjalanan dan penulusuran.
-Archipelago-
ColourArt Director: Leonardo Wangsa
Copywriter: Lidwina Windri
Design Grafis: Ignatius Untung, Wendy Afrianto, Seno
Tuesday, April 15, 2008
Bon Appetit...
Hehe.. kok jadi promosi, tapi itulah sebenarnya inti pesan yang ingin ditampilkan melalui kedua iklan di bawah ini.
Setelah larut dalam proses brainstorming yang cukup lama, akhirnya didapatkan beberapa ide, namun yang akhirnya dieksekusi ya cuma satu ide.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai iklan yang ditampilkan mungkin ada lebih baik jika saya sedikit menerangkan apa itu SLim Gourmet.
Slim Gourmet merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang ahli gizi. Yang membuat SLim Gourmet berbeda dengan perusahaan lainnya adalah di sini Slim Gourmet tidak hanya sekedar memberikan konsultasi gizi, melainkan juga mengatur jadwal dan menu diet kita dimana semuanya diantar secara langsung (delivery service) layaknya perusahaan katering. Selain itu menu-menunya tak melulu menu diet yang seperti kita ketahui, melainkan menu-menu nikmat dengan rasa bintang lima (yang masak chef hotel bintang 5-red) yang telah diatur kandungan gizinya. Jadi ga perlu tuh yang namanya takut gemuk kalo makan steak, salad etc. kalo yang ngater dari Slim Gourmet.
Nah berhubung ini baru di masyarakat awam, maka tim kami ingin menampilkan suatu iklan yang mampu mengenalkan Slim Gourmet ke masyarakat. Atau memancing rasa ingin tahu masyarakat akan Slim Gourmet.
Dan salah satunya adalah menampilkan perbandingan. Tim kami sepakat untuk menampilkan perbandingan itu ga harus selalu ada BEFORE and AFTER. Jadi dengan pertimbangan yang matang kami pun sepakat untuk membuat tampilannya seperti di bawah ini.
Ada dua orang yang hendak makan, dengan keadaan porsi makanan sama banyak, menu makanan sama nikmatnya, namun yang berbeda adalah keadaan si orang yang hendak melahap makanan tersebut. Yang satu gemuk karena ia makan makanan Fast Food, sedang yang satu lagi langsing padahal makanan yang dilahapnya pun terlihat sama menggiurkannya dengan jumlah porsi yang sama banyak. Kami sengaja tidak menampilkan bentuk tubuh di sini, kami berpandangan ada banyak cara untuk menampilkan perbedaan bentuk yang berbeda berat badan, dan salah satunya adalah melalui tampilan tangan.
Sedang untuk copy-nya di bagian headline saya hanya memberikan suatu pesan yang intinya adalah selamat menikmati makanan enak tanpa perlu kehilangan tubuh indah ato berat badan naik, Bon Appetit...
Dibagian body kita sengaja membuat dua alternatif:
1. tanpa bodycopy, tapi hanya berupa informasi tentang alamat Slim Gourmet. Tujuannya sih cuma satu, kalo ada pembaca yang penasaran saat melihat iklan ini bisa tanya langsung ke SLim Gourmetnya.
2. dengan bodycopy yang menjelaskan apa itu Slim Gourmet, jadinya adalah:
Nikmati setiap kesegaran di setiap hidangan, tepat pada waktunya dengan adanya sistem khusus Delivery Service dari Slim Gourmet."

Art Director : Leonardo Wangsa
Copywriter : Lidwina Windri
Thursday, February 21, 2008
Korek....
Sudah menjadi sebuah runtinitas bagi beberapa anak muda di komplek Permata Hati, berkumpul di warung Pa’Parmin sembari menunggu matahari terbenam. Baik hanya untuk sekedar berkumpul, tertawa, istirahat sehabis olah raga sore di lapangan basket yang letaknya memang pas disebelah warung Pa’Parmin.
Hampir setiap sore mereka berlima: Ardo, Wian, Yuan, Bimo, dan si manis Dian menghabiskan sore hari mereka bersama-sama. Adalah Ardo seorang periang dan bisa dikatakan paling sehat, karena ia satu-satunya yang tidak suka merokok, bertolak belakang dengan teman-temannya yang lain. Namun demikian, kemanapun Ardo pergi ia selalu membawa korek api kesayangannya yang berbentuk silver bulat dan selalu terlihat bercahaya.
“Do... biasa...” celetuk Bimo dengan gaya tangannya yang khas memberi petunjuk untuk sebuah alat pematik. “Oh tar dulu ya..” sahut Ardo membalasnya. Tanpa memerlukan waktu lama Ardo-pun segera merogoh kantong celananya... satu menit... dua menit... tingkah laku kian terlihat gusar... wajahnya mulai panik... “Mana Do.. ada ga koreknya...” tanya Bimo... “Tar dulu..tar dulu... tadi ada... mana ya...?” jawab Ardo...
Ardo merasa tiba-tiba awan kelabu datang siap-siap bernaung di atas kepala Ardo... “Korek gw ilang....” teriak Ardo kepada teman-temannya...
“Yah.. kok bisa Do... coba lu cari lagi yang bener...” sahut Dian. “Beneran ga ada...kan biasanya di kantong celana gw...”
Tenaga Ardo seolah turun secara drastis... tubuhnya lemas... ia terduduk dengan tatapan kosong.. jiwanya seolah terenggut... Cahaya itu padam... Cahaya itu hilang...
Melihat Ardo yang tiba-tiba berubah 180ยบ, teman-temannya ikutan panik dan berusaha membantu Ardo dengan mencari korek apinya disekitar lapangan, sambil berharap korek itu jatuh ketika mereka sedang asik bermain basket sore tadi. Tapi yang ada adalah Nihil..
Dengan langkah lemas... Ardo melangkahkan kakinya pulang ke rumah.. “ya udah Do.. relain aja... kalo ga besok kita cari lagi ya... “ ujar Dian berusaha menenangkan Ardo. “Iya Do.. pasti ketemu kok... tenang bro... besok kita cari lagi...” balas Wian. “Yoi coy... besok kita cari lagi... lagian kalo ga ketemu juga... Entar gw beliin yang lebih canggih dah dari si bening (Nama korek Ardo)...” canda Yuan. Mendengar Yuan berkata seperti itu, bertambah panas hati Ardo, tatapan tajam ia berikan ke Ardo sembari menahan sebuah pukulan dalam kepalannya... ia-pun menarik nafas dalam-dalam... dan dalam langkahnya ia pergi meninggalkan teman-temannya...
“Ya elu si Yan... marahkan si Ardo...” ujar Bimo... “Itukan korek udeh kaya belahan jiwanya dia... ya ngga mungkinlah dengan gampangnya dia nerima keilangannya gitu doank...” sambungnya.
“Emang sih... tapi kenapa segitunya si Ardo segitu sayangnya sama si bening...” tanya Yuan.
“Dasar begooo...” teriak Dian yang diikuti dengan sebuah toyoran ke arah kepala Yuan.. “Itukan korek dari Lia... inget ga lu...?” sambung Dian.
Ardo terus berjalan menuju rumahnya dengan tatapan kosong.
Ia melihat Lia dengan senyumnya, ia melihat dirinya yang pemurung dan pendiam, juga Lia si periang yang selalu ada disisinya. Lia yang memberikan keceriaan dihari-hari remajanya. Ardo dan Lia yang dulu dikenal sebagai sepasang remaja yang penuh cinta dalam segala perbedaan.
Ia melihat wajah teman-temannya yang puas setiap kali si bening bercahaya untuk menyalakan rokok. Cahaya si bening ketika mati lampu di rumah. Si bening ketika Ardo hendak menyalakan api unggun dan banyak kenangan lain yang muncul dengan si bening dan Lia.
Hingga akhirnya satu bayangan muncul, “Ini buat kamu...” kata Lia pada Ardo sembari memberikan sebuah korek api yang berbentuk bulat dan berwarna silver mengkilap itu... “Tapikan aku gak ngerokok..” jawab Ardo dengan dingin. “Iya.. aku tau kok... korek ini pengganti aku kalo aku ga ada disebelah kamu...” jawab Lia dengan riang dan santai. “Maksud kamu...?” tanya Ardo bingung. “Iya... sayang... kamu lihat deh korek ini.. baguskan, bentuknya lucu, mengkilap dan kalo kamu nyalain kaya gini (Lia menyalakan korek api) tuh... baguskan cahayanya... Aku percaya cahaya di korek ini bisa bikin kamu lebih ceria... kaya aku... Trus uda itu ya sayang... apinya ini pasti bisa buat orang lain ceria... soalnya kan ada aku di’situ’... hehehe” ujar Lia sambil menebar senyumnya yang manis dan selalu ceria. “Kamu ini... bisa aja...” balas Ardo sambil mengelus kepala Lia.
Sore itu mereka sedang berjalan di pinggir jalan... Lia berjalan dengan ceria mendahului Aryo sambil menikmati es lilin yang baru dibeli. Ardo berjalan dengan gayanya yang khas... dingin dan wajah datarnya. Lia yang berada di depan Ardo sekitar sepuluh meter itu masih saja berjalan riang hingga tiba-tiba sebuah mobil dengan pengemudi yang mabuk menabraknya, tepat di depan Ardo. Ardo yang terkejut... Ardo yang lemas... Ardo yang merasa hancur hatinya... memeluk Lia yang tubuhnya bersimbah darah... “Sayang kamu jangan nangis... kamu ingetkan kata-kataku kemarin... jaga si bening ya..” kata Lia sambil memegang kantung baju Ardo yang di dalamnya terdapat korek api pemberiannya. “Janji ya...” sambungnya sambil memberi senyum manisnya untuk terakhir kalinya.
Ardo.. tiba di rumahnya masih dengan langkah lemas dan tatapan kosongnya. Ia pun membaringkan dirinya pada sofa di ruang keluarga, tatapannya masih belum berubah meskipun acara di telivisi terlihat cukup menarik...
Setelah beberapa lama... ibu Ardo keluar dari arah dapur, dengan suara khasnya... “Eh kamu Do udah pulang... oya... tadi siang pas ibu mo nyalain kompor, kompornya ga nyala-nyala.. trus kamu dibangunin juga ga bangun-bangun ya terpaksa ibu ambil ini... (sambil memberikana si bening ke Ardo) ... sendiri di celana kamu yang ngegantung... Udeh gih sana makan... muka uda pucet kaya gitu... maen apa aja sih emangnya sama temen-temen kamu?”
“Ya ampun ibu....” teriak Ardo girang yang berlanjut memeluk ibunya dengan erat kemudian menyimpang koreknya di dalam celana dan merangkul ibunya menuju ruang makan.

