Tuesday, May 26, 2009

A laugh to love

That was not a good day to me
But U came and sat beside me


It was not a good time for me

But U were there accompanied me


Remembering that time, today

The day u brighten my day


It felt so warm

I feel so save


I see your laugh

And you make me laugh

The laugh that I ever had

The laugh that turn me back

Back in love


Yes… I still remember that day

I still remember your laugh


A laugh that make me being the happiest person

A laugh that coloring my day (by day)

A laugh that made me in love with you

A laugh that I ever seen again

Panggung Peri

Menatap tajam pada bayangan dalam cermin
Pantulan sempurna terlihat jelas di dalamnya

Ditemani dengan cahaya lampu temaram

Ia duduk terdiam


Gerak halusnya menjadikan sebuah lukisan

Lukisan indah pada wajah eloknya

Dia usapkan satu persatu warna warni riasan

Warna warni indah, menyenangkan dan menggoda


Kostum berwarna kuning keemasan ia pilih untuk malam ini

Bersama sayap kecil dibelakangnya dan tongkat kecil pasangannya

Rambut hitam telah tergelung setengah

Dan setengahnya ia biarkan berjuntai sempurna

Ditemani hiasan bintang-bintang yang bersembunyi dibeberapa bagian helai rambutnya.

Ia siap beranjak lepaskan dirinya untuk terbang


Dan kini, untuk kesekian kalinya, ia kembali menatap tajam bayangan di cermin itu

Bayangan cantik dan senyum semu terlihat disana

Kembali ia bertanya,”Siapakah aku?”

Matanya terpejam untuk kemudian terbuka dan meninggalkan sedikit cahaya di sana


Ketukan pintu kencang membangunkan ia sesaat

Telah tiba waktunya untuk menjadi sesosok peri

Peri penghibur lara bagi para penikmat wajah cantik

Juga senyum manis dan tubuh moleknya


Di atas panggung ia beraksi,

Menari sempurna dalam balutan kostum peri

Sambil sesekali ia gerakan tongkatnya pada lawannya dengan centil

dan tertawalah mereka dalam kegembiraan.


Dia biarkan mereka tertawa

Dia biarkan mereka terharu

Dia biarkan mereka berdiri, bertepuk tangan

Lalu melemparkan bunga ke atas panggung untuknya


Dalam perih ia terbang

Merintih sakit dan tak ada yang perduli

Sang peri kini dalam perih

Berjalan tertatih untuk mencari sebuah arti


Arti dari kehidupan yang ia jalani

Arti dari seorang diri

Arti dari mencintai

Dan dicintai


Tirai panggung telah turun

Cahaya lampu juga telah dimatikan

Tinggal ia sendiri dalam kesunyian

Melangkah dalam ruang jiwa yang kosong





Tuesday, March 10, 2009

Yes… Tonight, I smile for U

Tonight was so different
I can feel the wind kiss me gentle

See the moon smiling to the star
And let the rain whispered softly in my ear

It’s been a long time that we don’t talk each other
Just like a couple of years that I haven’t see u

Well I just want to U know…

U were so look different tonight


Not from your look tonight

Not from the clothes that u ware

Not from the gadget that u use it

Not from the way you sing and guitar that u played


Yes… I saw u were change

Yes… I feel u already back

Yes… I saw u were happy tonight

Yes… I know that u much much much better


Just try to saw u from the different side

And Thanks GOD u already release from that tight

Now I see U free from that pain

And become cheerful guy... tonight


Thanks to U for all scenes

Thanks for all smile that u shown

Yes…

Your smile… and your laugh… tonight…

The way u enjoy that night… tonight…

Yes… U makes me smile

Yes… Tonight, I smile for U


Monday, February 16, 2009

Ketika Ia Berucap

Tak pernah ku harap lebih ketika ku memberimu hadiah
Yang ku ingin hanya melihat senyummu saat itu

Tangan mungilmu yang menerima dengan halus
Bibir kecilmu yang kemudian tersenyum
Juga binar matamu saat itu…

Sungguhlah menghadirkan warna ceria untukku


Bahagia rasanya melihatmu tersenyum

Namun tahukah kamu…
Kaulah yang ternyata memberiku hadiah
Ketika bibir kecilmu mengucapkan sebuah kalimat
Itu adalah kalimat terindah yang pernah kudengar
Sederhana, jujur, dan terdengar sangat tulus


Tahukah kamu...
Doa yang kaulafalkan untukku

Sebuah doa terindah yang pernah kudengar dari seorang malaikat kecil

Masih kuingat hingga saat ini kata-kata yang kau ucapkan pagi itu

Terima kasih malaikat kecilku
...
Doamu benar-benar menghadirkan senyuman di wajahku
Terima kasih malaikat kecilku
...
Kau membuat perjalanan hidupku terasa ringan.


Dedicate to: Louisa, gadis kecil yang suka bermain di ruang kerjaku, "terima kasih untuk doanya ya..." :D

Perjalanan Pagi

Februari 14’2009
Hari ini… adalah suatu hari yang membawaku dalam sepenggal cerita baru dalam hidupku. Mungkin bagi beberapa orang cerita yang hendak kusampaikan ini adalah cerita biasa, tapi untukku… ini adalah suatu pengalaman yang membawaku dalam sebuah bentuk perasaan yang bercampur aduk, antara bingung, senang, gugup, ragu namun akhirnya membawaku dalam suatu senyuman. Pagi itu sengaja kupasang jamku untuk berbunyi membangunkanku, ada rasa ragu sebelum akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari tempat tidurku dan bergegas menyiapkan diri pada suatu pertemuan dengan sekumpulan orang asing.

Jam 8 lewat, ku lajukan si vespa kecilku, Alfie menuju daerah Patiunus. Pagi yang cerah, udara yang menyegarkan menemani perjalananku pagi itu. Dari jauh telah terlihat deretan motor yang ber-(maaf) pantat semok itu, mulai dari yang tua hingga yang terbaru, semua berjejer rapi.


Dari seberang telah kulihat segerombolan pria dengan rompi tebal yang melindungi badan mereka. Beberapa ada yang telah kukenal sebelumnya, dan lainnya baru ku ketahui saat itu. Aku wanita sendiri di tengah gerombolan itu. Inilah wajah-wajah baru dalam hidupku, bila kuperhatikan sekilas mungkin umur mereka mungkin sekitar 25 hingga 40-an, beberapa kenalanku ada yang sudah menikah dan punya anak, dan lain-lainnya uhmmm… aku kurang mengetahuinya. Pagi itu kami, sekumpulan orang-orang yang menjadi pemilik dari satu atau beberapa vespa, berkumpul di Patiunus untuk sarapan bersama. Mulai dari serabi, lontong sayur, bakso, tapi pilihanku tetap pada semangkok bubur ayam yang lezat dengan ayam kampungnya yang tumpah ruah... Muanntapp..


Inilah sarapan keduaku bersama mereka, tapi ini adalah pertama kalinya aku berjalan-jalan dengan Alfie dan kawan-kawan hingga Monas. Ya aku dan Alfie bersama teman-teman baruku itu, berjalan menelusuri sepanjang jalan Sudirman, Thamrin, dan kemudian memutar balik di depan Museum Nasional hingga akhirnya kembali ke daerah selatan, Taman Barito jadi pemberhentian kami sejenak.


Jujur, ada perasaan takut, deg-degan, senang, dan entahlah suatu perasaan yang tidak dapat kuungkapkan. Inilah pertama kalinya aku touring, ya walau kecil-kecilan dan selalu tertinggal, tapi perasaan ini wahh… senangnya… menikmati perjalanan bersama Alfie.


Tidak puas sampai Taman Barito, kamipun melanjutkan perjalanan menuju Parkir Timur Senayan. Matahari tampaknya merestui perjalanan kami pagi itu, dia banjiri hari ini dengan sinarnya hingga kering dibuatnya tenggorokan ini. Sesampainya di halaman belakang komplek kolam renang Senayan, kamipun istirahat sejenak, berbincang-bincang, mungkin ada sekitar satu jam kami disana sebelum akhirnya memutuskan untuk berpisah.
Sungguh perjalanan pagi yang singkat namun penuh warna. Entah harus mengucapkan apa tentang hari ini… “Terima kasih kawan-kawan dari vesbook, vesberry, atau campursari… terima kasih untuk perjalanan singkat di pagi hari ini, semoga kita bisa berjalan bersama-sama lagi… :D “

Thursday, November 20, 2008

Tulisanku...

Menulis… terkadang aku berpikir apakah seorang aku memang diharuskan sering menulis karena pekerjaan yang kulakukan berhubungan dengan dunia tulis menulis, kata-kata, dan inspirasi.
Dan apakah semua hal aku rasakan, aku pikirkan harus selalu dituangkan dalam tulisan? Semua hal bermain dalam otak kecil, berlari dan berlompatan secara mengacak, dan haruskah semua kutuliskan seperti apa yang ada di alam pemikiran itu?

Menulis… iya aku menulis… tapi apakah harus juga selalu kuperlihatkan bahwa aku sedang menulis sesuatu di depan mereka? Seolah menunjukkan diri bahwa ‘Yaa… aku senang menulis lho…’
Menulis… bukanlah suatu ajang unjuk diri, bagiku… ya memang ini bagian terbesar dalam hidupku… namun saja terkadang ingin rasanya mengatakan, aku ya aku… aku yang hanya senang menulis ketika kalian tidak ada di sekitarku…
Aku menulis… dan senang rasanya membiarkan jari-jari ini menari di atas tombol-tombol hurf yang berjajar pada suatu papan dengan tatanannya… membiarkan jari-jari ini merangkai setiap hurufnya menjadi sebuah kata… menjadi sebuah kalimat… menjadi sebuah cerita…
Aku menulis… ketika jari, hati dan pikiran ini bersama-sama bermain dalam satu panggung pemikiran dan inspirasi…
Aku menulis.. . tanpa harus kalian ketahui bahwa aku sedang menulis…
Aku menulis… dan masih terus menulis…
Aku menulis… entah apa yang aku tulis…
Aku menulis… dan biarkan hanya aku dan waktu yang tahu kapan aku menulis, dan tunggu saja hasilnya di suatu duniaku…
Aku menulis… dan masih perlukah kau ketahui itu?

Friday, May 30, 2008

Visit Indonesia 2008 (Initiative)

Inisiatif poster untuk Visit Indonesia 2008. Setelah berkumpul, berbincang, bertukar pendapat, pandangan dan ide bersama tim, akhirnya tiga konsep ide terpilih.


- Treasure -

Di konsep pertama kita ingin menampilkan Indonesia sebagai salah satu harta karun dunia. Dengan banyaknya seni dan budaya, adat istiadat di Indonesia, menurut kami hal tersebut telah menjadi harta tersendiri untuk Indonesia yang siap untuk digali untuk para wisatawan luar negeri. Dan tentunya dalam menemukan sebuah harta karun tentunya akan dibutuhkan sedikit perjalanan dan penulusuran.


-Archipelago-

Di konsep ke dua ini, kami mencoba untuk menampilkan secara gamblang keaneaka ragaman yang ada di Indonesia. Keaneka ragaman yang ada merupakan salah satu keunikan Indonesia, dimulai dari ragamnya kebudayaan dengan tradisinya masing-masing, menu makanan tradisional hingga flora dan fauna yang hidup tersebar secara merata dari Sabang sampai Marauke.


Colour


Di konsep yang ketiga ini, seperti yang bisa dilihat begitu banyak warna yang ditampilkan sebanyak 'warna' yang ada di Indonesia. Intinya lebih ke 'warna-warni' Indonesia mampu mewarnai dunia.


Untuk copywriting lebih jelas silakan lihat disini.


Art Director: Leonardo Wangsa

Copywriter: Lidwina Windri

Design Grafis: Ignatius Untung, Wendy Afrianto, Seno